Bagaimana Shalat Mengubahmu?

Shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat dan menjadi tiang agama. Namun, di balik kewajiban itu terdapat sebuah pertanyaan yang patut direnungkan oleh setiap muslim: apakah shalat yang kita dirikan benar-benar telah mengubah diri kita? Jika seseorang telah bertahun-tahun mengerjakan shalat, tetapi lisannya masih dipenuhi dusta, hatinya masih dipenuhi dengki, dan tangannya masih ringan berbuat zalim, maka sudah saatnya ia mengevaluasi kualitas shalatnya.

Allah Swt. menjelaskan tujuan besar shalat dalam firman-Nya:

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-'Ankabut: 45)


Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar ibadah ritual yang dilakukan lima kali sehari. Shalat adalah sarana pendidikan jiwa yang dirancang Allah untuk membentuk manusia yang bertakwa. Ketika seseorang mendirikan shalat dengan benar, shalat akan menjadi benteng yang menghalanginya dari segala bentuk kemaksiatan.

Ikhtilaf adalah Sunnatullah: Peran Pesantren dalam Mendidik Kedewasaan Beragama

Ada kegelisahan setiap kali Ramadhan mendekat: bukan soal iman yang melemah, tetapi ego yang menguat. Perbedaan awal Ramadhan sering kali berubah menjadi panggung klaim kebenaran. Padahal, sejak dahulu para ulama telah berbeda dalam metode—sebagian menempuh hisab, sebagian menegakkan rukyat—namun mereka tetap bersaudara dalam akidah dan ibadah.

Gerhana Cincin Antarktika dan Klaim 1 Ramadhan 1447 H

Di ufuk selatan bumi yang dingin, 17 Februari 2026, Matahari dan Bulan “menari” dalam diam. Cincin api terbit di langit Antarktika—sebuah lingkaran cahaya yang membingkai kegelapan.

Bagaimana Ramadhan Mengangkat Derajatmu?

Ramadhan: Bukan Sekadar Menahan Lapar, Tetapi Jalan Menuju Kemuliaan

Setiap tahun Allah ﷻ menghadirkan bulan Ramadhan sebagai hadiah terbesar bagi kaum mukminin. Di bulan inilah pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Namun, Ramadhan bukan sekadar rutinitas tahunan untuk berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ramadhan adalah madrasah ruhani yang Allah siapkan untuk mengangkat derajat hamba-hamba-Nya.

Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak semua mendapatkan peningkatan derajat di sisi Allah. Ada yang hanya memperoleh rasa lapar dan haus, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

"Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain lapar dan dahaga."
(HR. Ahmad no. 8856, Ibnu Majah no. 1690, dinilai hasan oleh sebagian ulama).

Hadis ini menjadi peringatan bahwa tujuan Ramadhan jauh lebih besar daripada sekadar menahan makan dan minum. Ramadhan hadir untuk mengubah hati, memperbaiki akhlak, dan mengangkat kedudukan seorang hamba di sisi Rabb-nya.


Khutbah Jum’at Singkat – Sya’ban sebagai Momentum Transformasi Iman

  اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Khutbah Pertama

Alhamdulillah segala puji bagi Allah ﷻ, Tuhan semesta alam, yang telah memberikan kita nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga kita dapat hadir di rumah-Nya pada hari yang mulia ini. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti sunnah beliau hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Hari ini kita berada di bulan Sya’ban, bulan yang sering dilupakan oleh sebagian umat, padahal memiliki keutamaan besar. Rasulullah ﷺ bersabda:

​"مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ"

 ​"Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa di luar Ramadhan daripada di bulan Sya’ban." (HR. Muslim)

Bulan Sya’ban adalah bulan persiapan menyambut Ramadhan. Oleh karena itu, kita perlu memanfaatkan kesempatan ini untuk menyucikan hati, memperbaiki amal, dan meningkatkan kualitas iman, agar ketika Ramadhan tiba, kita siap menerima pahala berlipat ganda.

Hadirin jamaah Jum’at yang berbahagia,

Kita hidup di dunia yang penuh ujian. Iman kita diuji oleh berbagai hal: ekonomi, kesehatan, tekanan sosial, hingga rasa lelah dan putus asa. Bulan Sya’ban mengingatkan kita untuk menyiapkan diri, bukan hanya secara fisik, tetapi juga spiritual. Rasulullah ﷺ memberi contoh dengan memperbanyak

Satu Abad Nahdlatul Ulama: Istiqamah Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Mulia

Nahdlatul Ulama (NU) telah menapaki perjalanan panjang selama satu abad. Seratus tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan bukti istiqamah sebuah jam’iyah dalam menjaga agama, merawat tradisi, dan mengawal bangsa Indonesia menuju peradaban yang berakhlak dan bermartabat.

Sejak didirikan oleh para ulama dan kiai pada tahun 1926, NU hadir sebagai benteng Ahlussunnah wal Jama‘ah yang menanamkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Dakwah NU tumbuh dari pesantren, masjid, dan majelis ilmu, menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Di sanalah nilai-nilai keislaman ditanamkan dengan hikmah, kearifan, dan cinta tanah air.

Khutbah Jum'at Singkat : Bulan Sya’ban, Musibah dan Peringatan untuk Memperkuat Iman

  اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ﷻ atas segala nikmat-Nya yang tiada terhitung. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.


Aku wasiatkan kepada diri khatib dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, seorang hamba akan selamat di dunia dan akhirat.

Khutbah Jum'at Singkat : Sya‘ban, Bulan yang Sering Dilupakan

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.


Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Saat ini kita berada di bulan Sya‘ban, sebuah bulan yang sering kali dilalaikan oleh banyak manusia, padahal bulan ini memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Padahal bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam.”

(HR. an-Nasa’i)

Berbeda dalam Adab, Bersatu dalam Do'a : Hukum Mengusap Wajah Usai Doa dalam Perspektif Hadits dan Fiqih

Perbedaan pendapat dalam fiqih Islam merupakan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi istinbāṭ dan cara memahami dalil-dalil syar‘i. Dalam wilayah ibadah amaliyah, sejumlah praktik keagamaan dipahami secara beragam oleh para ulama, tanpa menafikan kesepakatan mereka pada pokok-pokok ajaran Islam. Salah satu persoalan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah praktik mengusap wajah setelah doa, yang oleh sebagian ulama dibolehkan, sementara oleh sebagian yang lain tidak dianjurkan.

Kajian ini bertujuan untuk menelaah hukum mengusap wajah setelah doa melalui pendekatan hadits dan fiqih, dengan menyoroti dalil-dalil yang digunakan, pandangan ulama empat mazhab, serta sikap organisasi keagamaan di Indonesia. Pembahasan ini diharapkan dapat menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka khilāfiyah furū‘iyyah secara proporsional dan akademik.

Hadits-Hadits Terkait Mengusap Wajah Setelah Doa

Di antara hadits yang sering dijadikan dasar kebolehan mengusap wajah setelah doa adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

(HR. at-Tirmidzi)

Khutbah Jum'at Singkat : Meneladani Hikmah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 ​أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. ​

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan sebagai penentu keselamatan di akhirat kelak.

Pada kesempatan khutbah Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan tentang peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan pelajaran iman, akidah, dan ibadah.


Pesantren dan Ideologi Kyai Terhadap Santri: Antara Sakralitas Tradisi dan Dialektika Zaman

 Telaah Judul: Mengapa "Ideologi Kyai"?

​Judul ini mengandung dua entitas sentral: Kyai sebagai subjek aktif (sang pemberi pengaruh) dan Santri sebagai subjek reseptif (penerima nilai). Kata "Ideologi" di sini tidak bermakna politis sempit, melainkan sebuah worldview atau cara pandang dunia yang mencakup aspek teologis, sosial, hingga perilaku keseharian. Membahas ideologi Kyai berarti membedah isi kepala dan hati seorang pemimpin spiritual yang kemudian diproyeksikan kepada ribuan muridnya melalui sistem asrama yang tertutup.

​Retorika dan Romantisme Pesantren

​Dalam narasi ideal, pesantren digambarkan sebagai "kerajaan kecil" yang mandiri. Kyai adalah sang raja bijak yang kata-katanya dianggap sebagai dawuh suci. Santri, dalam retorika klasik, diposisikan sebagai "tanah liat" yang siap dibentuk oleh tangan dingin Kyai.

Sikap Pesantren dalam Menyikapi Kontroversi Mens Rea: Antara Kebebasan Ekspresi dan Adab dalam Islam

 Beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh polemik materi stand up comedy Mens Rea yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dan ditayangkan melalui platform digital. Konten tersebut menuai beragam reaksi: sebagian menilai sebagai kritik sosial yang sah, sementara sebagian lain menganggapnya telah melampaui batas kesantunan, bahkan menyinggung institusi keagamaan. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana seharusnya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam menyikapi fenomena semacam ini?

Pesantren dan Prinsip Keseimbangan

Tradisi pesantren sejak dahulu dikenal dengan sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Dalam menyikapi persoalan sosial, pesantren tidak terburu-buru menghakimi, namun juga tidak abai terhadap nilai-nilai adab dan akhlak. Kritik sosial dalam Islam pada dasarnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama dilakukan dengan cara yang benar dan bertujuan untuk perbaikan, bukan penghinaan.

Allah SWT berfirman:.

Bagaimana Umat Islam Meraih Kemenangan

oleh : Futihati Tadzkiran

Setiap manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan mulia, yakni menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk menjaga, memelihara, serta memanfaatkan segala potensi alam dengan sebaik-baiknya. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling utama dibandingkan ciptaan lainnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”

(Q.S. At-Tin: 4-5)

Namun, kehormatan ini tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan ketaatan, ketakwaan, serta kesadaran untuk selalu berada dalam jalan yang diridai Allah. Luqman pernah menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, karena kesyirikan adalah sebuah kezhaliman yang besar. Dari nasihat ini kita belajar bahwa kemenangan seorang muslim dimulai dari tauhid yang lurus, takwa yang kuat, serta kesadaran akan amanah yang dipikulnya.

Pandangan dan Sikap Muslim dalam Menyambut Tahun Baru 2026

Pergantian tahun 2026 merupakan momen yang tidak bisa dihindari dalam perjalanan waktu manusia. Bagi seorang Muslim, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka atau perayaan seremonial, melainkan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), memperbaiki niat, dan meneguhkan komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Islam memandang waktu sebagai amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini menegaskan bahwa berlalunya waktu, termasuk pergantian tahun, dapat menjadi sebab kerugian apabila tidak diisi dengan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memandang tahun baru sebagai pengingat bahwa umur semakin berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.

1. Muhasabah sebagai Sikap Utama

Islam Kultural Kiai Ahmad Dahlan

oleh : Zaida

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang lahir dari gagasan besar Kiai Ahmad Dahlan. Sejak awal, gerakan ini dimaksudkan bukan hanya sebagai pembaharu dalam bidang agama, melainkan juga sebagai gerakan sosial, budaya, dan pendidikan. Kiai Ahmad Dahlan menghadirkan visi yang jauh ke depan, dengan kesadaran zamannya yang kuat, ia mampu melihat bahwa umat Islam membutuhkan perubahan mendasar agar mampu menghadapi tantangan modernitas.

Namun, perjalanan panjang Muhammadiyah setelah wafatnya sang pendiri menunjukkan dinamika yang tidak selalu sejalan dengan cita-cita awal. Dalam praktiknya, gerakan ini sering kali lebih menonjolkan sisi formalitas keagamaan (syariah) dan semakin berjarak dari persoalan sosial kemasyarakatan. Padahal, Kiai Ahmad Dahlan pada masanya justru menekankan pentingnya kesadaran sosial, budaya, dan kepedulian terhadap kaum kecil, seperti buruh, petani, serta masyarakat miskin.

Peran Besar Pendidikan Islam

KH. Hasyim Asy’ari: Ulama yang Menyulut Api Cinta Tanah Air

oleh : Tsalsa Ayu Rahmadhani

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama. Di antara nama besar itu, KH. Hasyim Asy’ari berdiri tegak sebagai sosok ulama karismatik, pendiri Nahdlatul Ulama, dan pejuang yang mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Lahir pada 10 April 1871 di Jombang, KH. Hasyim tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa hingga kemudian berangkat ke Makkah. Di tanah suci, beliau tidak hanya memperdalam kitab-kitab klasik, tetapi juga menyerap semangat perjuangan para ulama dunia Islam. Sekembalinya ke tanah air, KH. Hasyim bukan sekadar mengajar kitab, tetapi juga menyalakan api kesadaran umat untuk mencintai agama sekaligus membela bangsa.

Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Pada masa penjajahan, banyak yang menganggap agama dan politik sebagai dua jalan berbeda. Namun, KH. Hasyim Asy’ari hadir untuk menyatukannya. Beliau menegaskan bahwa menjaga agama tidak bisa dilepaskan dari menjaga tanah air. Dari situlah lahir gagasan besar bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

Khutbah Jum'at singkat : Keadilan dalam Kebijakan Publik dan Amanah Kepemimpinan

Khutbah Pertama

الحمد لله

الحمد لله الذي أمر بالعدل والإحسان، ونهى عن الظلم والطغيان، وجعل العدل أساس الحكم، وأمرنا بحفظ الأمانة، وأداء الحقوق إلى أهلها.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena ketakwaan adalah sumber kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Khutbah Jumat Singkat : 1 Muharram 1447 H dan Refleksi Perdamaian Global


الحَمْدُ للهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالهِجْرَةِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؛ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ و رَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ؛ اللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ إِمَامُ خَيْرِ الأُمَّةِ، وَعَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ مَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُصِيْكُمْ وَ إِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.  قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي قُرْآنِهِ الكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بَاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمَ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ، ۞وَمَن يُهَاجِرۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ يَجِدۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُرَٰغَمٗا كَثِيرٗا وَسَعَةٗۚ وَمَن يَخۡرُجۡ مِنۢ بَيۡتِهِۦ مُهَاجِرًا إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ يُدۡرِكۡهُ ٱلۡمَوۡتُ فَقَدۡ وَقَعَ أَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا  ١٠٠ (النِّسَاء: 100)

Pada hari yang mulia ini, kita berkumpul di rumah Allah SWT, di hari Jumat yang penuh berkah, dalam suasana khusyuk menyambut kedatangan tahun baru Islam, 1 Muharram 1447 Hijriah. Pergantian tahun ini bukanlah sekadar perubahan angka di kalender. Ini


adalah momen krusial bagi kita untuk berhenti sejenak, melakukan introspeksi mendalam atas segala amal perbuatan di masa lalu, dan merancang langkah-langkah konstruktif untuk masa depan yang lebih baik. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak (hijrah), sebuah perpindahan dari kelalaian menuju kesadaran, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari kegelapan menuju cahaya petunjuk Ilahi.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Puasa Arafah: Sejarah, Keutamaan, dan Pahalanya yang Melimpah

Sahabat Huffaz di manapun Anda berada, hari ini, tanggal 9 Dzulhijjah, kita semua berkesempatan untuk melaksanakan salah satu ibadah sunnah yang paling agung dan dinanti-nantikan: Puasa Arafah. Semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemudahan untuk meraih keberkahan serta pahala yang melimpah di hari yang istimewa ini.


Puasa Arafah adalah salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama bagi mereka yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Puasa ini dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Hari Raya Idul Adha. Keutamaannya yang luar biasa menjadikan puasa Arafah sebagai momen yang dinanti-nantikan oleh umat Muslim di seluruh dunia untuk meraih ampunan dan pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT.


Sejarah dan Makna Puasa Arafah

Secara historis, puasa Arafah tidak dapat dilepaskan dari ibadah haji itu sendiri. Tanggal 9 Dzulhijjah adalah hari ketika para jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf, inti dari ibadah haji. Di sinilah mereka memanjatkan doa, berzikir, dan memohon ampunan kepada Allah SWT

Daarelhuffadz Jadi Tuan Rumah Turnamen Pencarian Bakat Sepak Bola Muda Berstandar Asia Tenggara Pertama

Tegal, Jawa Tengah — Sebuah tonggak sejarah baru dalam pengembangan sepak bola usia muda telah ditorehkan di Tegal dengan suksesnya penyelenggaraan turnamen South East Asia Football Talent (SEAFT) 2025 tingkat regional. Event ini bukan sekadar turnamen biasa, melainkan sebuah ajang pencarian talenta sepak bola muda berkelas Asia Tenggara yang pertama kali diselenggarakan di wilayah Tegal, menunjukkan komitmen kuat dalam mencetak bibit-bibit unggul masa depan.

Peran Sentral Daarelhuffadz Football Academy

Di balik kesuksesan gelaran ini, ada peran sentral dari Afriliansyah, yang menjabat sebagai Ketua SEAFTI Tegal. Afriliansyah bukanlah nama asing dalam dunia pembinaan sepak bola muda, pasalnya ia juga merupakan founder dari Daarelhuffadz Football Academy (DFA). DFA sendiri adalah sebuah sekolah sepak bola yang memiliki visi besar, bahkan siap berkompetisi di tingkat internasional. Keberadaan sosok seperti Afriliansyah menunjukkan keseriusan Tegal dalam memajukan sepak bola, bukan hanya untuk ajang domestik, tetapi juga dengan pandangan jauh ke depan untuk membawa talenta-talenta lokal ke kancah global.

Khutbah Jumat: Meraih Kemuliaan di Pertengahan Bulan Dzulqa’dah

 Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آل عمران: 102)   
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Alhamdulillah, dengan rahmat dan karunia-Nya, kita kembali dipertemukan dengan hari Jumat yang penuh berkah, di pertengahan bulan Dzulqa’dah yang mulia. Waktu terus bergulir, membawa kita semakin dekat kepada akhir perjalanan, namun juga senantiasa membuka pintu-pintu kesempatan untuk meraih ridha dan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat ini, kita berada dalam salah satu dari empat bulan haram (suci) yang Allah sebutkan dalam Al-Qur’an, bulan yang memiliki keistimewaan dan kemuliaan tersendiri.

Bulan Dzulqa’dah adalah bulan kesebelas dalam kalender Hijriyah. Namanya, "Dzulqa’dah," berasal dari kata qa’ada yang berarti "duduk" atau "tidak bepergian." Dinamakan demikian karena pada bulan ini, masyarakat Arab Jahiliyah biasanya duduk dan menahan diri dari peperangan, menghormati kesuciannya sebagai persiapan menuju ibadah haji di bulan Dzulhijjah. Islam datang dan mengukuhkan kesucian bulan ini.