Shalat adalah ibadah pertama yang akan dihisab pada hari kiamat dan menjadi tiang agama. Namun, di balik kewajiban itu terdapat sebuah pertanyaan yang patut direnungkan oleh setiap muslim: apakah shalat yang kita dirikan benar-benar telah mengubah diri kita? Jika seseorang telah bertahun-tahun mengerjakan shalat, tetapi lisannya masih dipenuhi dusta, hatinya masih dipenuhi dengki, dan tangannya masih ringan berbuat zalim, maka sudah saatnya ia mengevaluasi kualitas shalatnya.
Allah Swt. menjelaskan tujuan besar shalat dalam firman-Nya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an), dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sungguh mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS. Al-'Ankabut: 45)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar ibadah ritual yang dilakukan lima kali sehari. Shalat adalah sarana pendidikan jiwa yang dirancang Allah untuk membentuk manusia yang bertakwa. Ketika seseorang mendirikan shalat dengan benar, shalat akan menjadi benteng yang menghalanginya dari segala bentuk kemaksiatan.
