Islam Kultural Kiai Ahmad Dahlan

oleh : Zaida

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang lahir dari gagasan besar Kiai Ahmad Dahlan. Sejak awal, gerakan ini dimaksudkan bukan hanya sebagai pembaharu dalam bidang agama, melainkan juga sebagai gerakan sosial, budaya, dan pendidikan. Kiai Ahmad Dahlan menghadirkan visi yang jauh ke depan, dengan kesadaran zamannya yang kuat, ia mampu melihat bahwa umat Islam membutuhkan perubahan mendasar agar mampu menghadapi tantangan modernitas.

Namun, perjalanan panjang Muhammadiyah setelah wafatnya sang pendiri menunjukkan dinamika yang tidak selalu sejalan dengan cita-cita awal. Dalam praktiknya, gerakan ini sering kali lebih menonjolkan sisi formalitas keagamaan (syariah) dan semakin berjarak dari persoalan sosial kemasyarakatan. Padahal, Kiai Ahmad Dahlan pada masanya justru menekankan pentingnya kesadaran sosial, budaya, dan kepedulian terhadap kaum kecil, seperti buruh, petani, serta masyarakat miskin.

Peran Besar Pendidikan Islam

Salah satu warisan terbesar Muhammadiyah adalah lembaga pendidikan. Sejak awal, pendidikan menjadi garda terdepan dalam mencetak generasi muslim intelektual. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tumbuh di berbagai daerah, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Namun, ketika gagasan dasar pendidikan yang dirintis Kiai Ahmad Dahlan tidak dipahami secara mendalam, sistem pendidikan Muhammadiyah justru terjebak dalam pola yang mirip dengan sistem pendidikan pemerintah.

Akibatnya, pendidikan Muhammadiyah sering kali kehilangan ruh pembaharuannya. Modernisasi yang seharusnya melahirkan generasi kreatif dan kritis justru berubah menjadi proses yang cenderung menyesuaikan diri dengan arus formalitas pendidikan nasional, tanpa banyak inovasi.

Ironisnya, penerus Muhammadiyah dalam bidang pendidikan kadang justru melemahkan daya kritis dan daya juang generasi mudanya. Modernisasi pendidikan yang seharusnya melahirkan kader-kader unggul malah tidak sepenuhnya mampu menghasilkan tenaga yang seimbang antara ilmu agama, wawasan modern, dan kepedulian sosial.

Padahal, sejak awal Kiai Ahmad Dahlan menekankan pentingnya membangun generasi muslim yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga tanggap terhadap persoalan sosial. Generasi yang diharapkannya adalah mereka yang mampu membawa Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh umat, dengan jalan pendidikan, dakwah, dan kerja-kerja sosial yang nyata.

Tantangan ke Depan

Kini, tantangan Muhammadiyah bukan lagi sekadar mempertahankan lembaga pendidikan atau dakwah, melainkan bagaimana menyalakan kembali semangat awal Kiai Ahmad Dahlan. Semangat yang memadukan Islam dengan nilai-nilai sosial, budaya, serta kepedulian terhadap keadilan dan kemanusiaan.

Kiai Ahmad Dahlan telah mewariskan teladan tentang bagaimana sebuah gerakan Islam tidak boleh berhenti pada formalitas ibadah dan syariah semata. Ia harus hidup dalam keseharian masyarakat, hadir dalam dunia pendidikan, serta mampu menjawab problem kemiskinan, kebodohan, dan ketertinggalan.

Dengan demikian, menghidupkan kembali Islam kultural ala Kiai Ahmad Dahlan berarti menghidupkan semangat pembaruan yang sejati: Islam yang membebaskan, mencerdaskan, dan menyejahterakan umat.


No comments: