oleh : Tsalsa Ayu Rahmadhani
Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama. Di antara nama besar itu, KH. Hasyim Asy’ari berdiri tegak sebagai sosok ulama karismatik, pendiri Nahdlatul Ulama, dan pejuang yang mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.
Lahir pada 10 April 1871 di Jombang, KH. Hasyim tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa hingga kemudian berangkat ke Makkah. Di tanah suci, beliau tidak hanya memperdalam kitab-kitab klasik, tetapi juga menyerap semangat perjuangan para ulama dunia Islam. Sekembalinya ke tanah air, KH. Hasyim bukan sekadar mengajar kitab, tetapi juga menyalakan api kesadaran umat untuk mencintai agama sekaligus membela bangsa.
Ulama dan Pejuang Kemerdekaan
Pada masa penjajahan, banyak yang menganggap agama dan politik sebagai dua jalan berbeda. Namun, KH. Hasyim Asy’ari hadir untuk menyatukannya. Beliau menegaskan bahwa menjaga agama tidak bisa dilepaskan dari menjaga tanah air. Dari situlah lahir gagasan besar bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).
Puncak perjuangannya terlihat saat beliau mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini menyatakan bahwa membela kemerdekaan Indonesia dari penjajah adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Resolusi inilah yang kemudian memantik semangat rakyat Surabaya melawan pasukan kolonial, yang kita kenang sebagai Pertempuran 10 November 1945.
Pendidikan dan Warisan
KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang hingga kini menjadi salah satu pusat pendidikan Islam terbesar di Indonesia. Dari Tebuireng lahirlah ribuan santri yang tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan.
Beliau juga menulis sejumlah karya monumental, di antaranya Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, yang menekankan pentingnya akhlak dalam menuntut ilmu. Warisan pemikirannya tidak sekadar tertulis di kertas, tetapi nyata dalam tradisi NU dan pesantren hingga hari ini.
Teladan untuk Generasi Muda
KH. Hasyim Asy’ari mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati tidak hanya sibuk beribadah secara ritual, tetapi juga peduli pada masyarakat dan bangsanya. Keteguhannya menghadapi penjajah, kesabarannya dalam mendidik santri, dan keberaniannya mengeluarkan fatwa jihad, menjadi teladan bahwa iman harus melahirkan aksi nyata.
Hari ini, di tengah tantangan zaman modern, semangat KH. Hasyim Asy’ari masih relevan: menjaga persatuan, memperkuat pendidikan, dan menanamkan cinta tanah air yang berlandaskan iman.
No comments:
Post a Comment