Ada kegelisahan setiap kali Ramadhan mendekat: bukan soal iman yang melemah, tetapi ego yang menguat. Perbedaan awal Ramadhan sering kali berubah menjadi panggung klaim kebenaran. Padahal, sejak dahulu para ulama telah berbeda dalam metode—sebagian menempuh hisab, sebagian menegakkan rukyat—namun mereka tetap bersaudara dalam akidah dan ibadah.
Gerhana Cincin Antarktika dan Klaim 1 Ramadhan 1447 H
Di ufuk selatan bumi yang dingin, 17 Februari 2026, Matahari dan Bulan “menari” dalam diam. Cincin api terbit di langit Antarktika—sebuah lingkaran cahaya yang membingkai kegelapan.
Gerhana itu dipahami sebagian kalangan sebagai tanda kelahiran bulan baru (ijtimak). Esok paginya, 18 Februari 2026 disebut-sebut sebagai 1 Ramadhan 1447 H.Allah berfirman:
يَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِىَ مَوَٰقِيتُ لِلنَّاسِ وَٱلْحَجِّ
“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji.” (QS. Al-Baqarah: 189)
Gerhana cincin tersebut teramati di wilayah Antarktika, termasuk sekitar Stasiun Concordia (Prancis–Italia). Secara astronomis, fase-fasenya (UTC) tercatat sekitar:
Mulai gerhana sebagian: ±09:56 UTC
Mulai annularity: ±11:42–11:46 UTC
Puncak: ±12:12 UTC
Akhir annularity: ±12:41 UTC
Akhir gerhana sebagian: ±14:27 UTC
Sementara di Jakarta (WIB), fase gerhana terjadi menjelang dan sesudah magrib. Namun rukyat hilal di Jakarta dilaporkan tidak berhasil karena secara ketinggian dan elongasi, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas.
Di sinilah muncul pernyataan tegas dari sebagian pihak: “Karena ijtimak dan gerhana sudah terjadi, maka 1 Ramadhan dapat ditetapkan tanpa sidang isbat.”
Sikap Pesantren: Tegas dalam Ilmu, Teduh dalam Adab
Pesantren tidak boleh reaktif, tetapi juga tidak boleh pasif. Sikapnya harus berdiri di atas tiga pilar:
1️⃣ Memisahkan antara Fenomena Astronomi dan Penetapan Fikih
Gerhana adalah bukti ijtimak (konjungsi). Tetapi dalam fikih, awal bulan tidak hanya berbicara tentang ijtimak—melainkan tentang hilal yang mungkin terlihat (imkan rukyat) atau wujudul hilal, sesuai manhaj masing-masing.
Gerhana ≠ otomatis awal bulan secara ijma’.
Ini wilayah ijtihad, bukan aqidah.
Pesantren harus menjelaskan bahwa:
Hisab adalah ilmu yang sah dan presisi.
Rukyat adalah metode syar‘i yang bersandar pada hadis.
Perbedaan keduanya sudah ada sejak generasi awal umat.
2️⃣ Mengedepankan Kaidah Fikih Persatuan
Kaidah ulama menyebutkan:
حُكْمُ الحَاكِمِ يَرْفَعُ الخِلَافَ
“Keputusan pemimpin (hakim) mengangkat perselisihan.”
Jika negara melalui sidang isbat menetapkan tanggal tertentu, maka menjaga ketertiban dan persatuan adalah maslahat besar. Pesantren mengajarkan adab taat dalam perkara ijtihadiyyah demi menghindari kegaduhan umat.
3️⃣ Mendidik Kedewasaan, Bukan Fanatisme
Pesantren bukan corong provokasi.
Pesantren adalah sekolah akhlak.
Ia harus menanamkan kepada santri dan masyarakat bahwa:
Berbeda tanggal bukan berarti berbeda kiblat.
Yang lebih penting dari “kapan mulai” adalah “bagaimana menjalani”.
Ramadhan tidak diukur dari kemenangan argumentasi, tetapi dari kemenangan hawa nafsu.
Pesantren di Tengah Perbedaan
Jika ada yang menetapkan 18 Februari 2026 sebagai awal Ramadhan berdasarkan perhitungan global dan fenomena gerhana, dan ada yang menunggu hasil rukyat lokal serta sidang isbat, maka pesantren mengambil sikap:
✔ Menjelaskan duduk persoalan secara ilmiah.
✔ Menghormati keputusan otoritas resmi negara.
✔ Tidak memvonis pihak lain.
✔ Mengajak umat menjaga ukhuwah.
Karena pada akhirnya, waktu memang ditentukan oleh Allah—tetapi persatuan dijaga oleh manusia.
Ramadhan bukan sekadar soal tanggal.
Ia adalah madrasah takwa.
Dan pesantren—dengan segala tradisi keilmuannya—harus berdiri sebagai penenang badai, bukan penambah gelombang.
Marhaban ya Ramadhan.

No comments:
Post a Comment