Pesantren dan Ideologi Kyai Terhadap Santri: Antara Sakralitas Tradisi dan Dialektika Zaman

 Telaah Judul: Mengapa "Ideologi Kyai"?

​Judul ini mengandung dua entitas sentral: Kyai sebagai subjek aktif (sang pemberi pengaruh) dan Santri sebagai subjek reseptif (penerima nilai). Kata "Ideologi" di sini tidak bermakna politis sempit, melainkan sebuah worldview atau cara pandang dunia yang mencakup aspek teologis, sosial, hingga perilaku keseharian. Membahas ideologi Kyai berarti membedah isi kepala dan hati seorang pemimpin spiritual yang kemudian diproyeksikan kepada ribuan muridnya melalui sistem asrama yang tertutup.

​Retorika dan Romantisme Pesantren

​Dalam narasi ideal, pesantren digambarkan sebagai "kerajaan kecil" yang mandiri. Kyai adalah sang raja bijak yang kata-katanya dianggap sebagai dawuh suci. Santri, dalam retorika klasik, diposisikan sebagai "tanah liat" yang siap dibentuk oleh tangan dingin Kyai.

​Secara retoris, ideologi Kyai disalurkan melalui konsep Barokah. Mencari keberkahan adalah motivasi tertinggi santri. Ketika seorang Kyai mengajarkan tentang kemandirian (zuhud) atau pengabdian (khidmah), santri tidak hanya menerimanya sebagai teori, tetapi sebagai jalan menuju keselamatan dunia dan akhirat. Inilah kekuatan retorika pesantren: ia menyatukan antara rasionalitas pendidikan dengan spiritualitas yang emosional.

​Realitas Lapangan: Hegemoni dan Kepatuhan

​Namun, bagaimana kenyataannya di lapangan? Realitas di pesantren menunjukkan bahwa transmisi ideologi ini terjadi melalui mekanisme hegemoni yang halus.

  1. Metode Manutan (Kepatuhan Mutlak): Di banyak pesantren tradisional (salaf), ideologi Kyai terserap tanpa filter kritis. Jika Kyai berafiliasi pada organisasi tertentu, maka seluruh santri secara otomatis mengikuti. Realitasnya, pesantren sering kali menjadi "pabrik" suara atau massa ideologis yang sangat solid.
  2. Kurikulum Kehidupan: Berbeda dengan sekolah umum, ideologi di pesantren ditanamkan melalui rutinitas. Bangun jam 4 pagi, mengantre mandi, hingga menyapu halaman kediaman Kyai adalah bentuk penanaman ideologi "ketundukan dan kesabaran". Di lapangan, kita melihat santri memiliki ketahanan mental (grit) yang lebih kuat dibanding siswa umum karena doktrin "prihatin" (hidup sederhana) yang ditanamkan Kyai.

​Paradoks di Era Disrupsi

​Kenyataan hari ini menunjukkan adanya pergeseran (shifiting) dalam otoritas ideologis. Jika dulu Kyai adalah satu-satunya sumber kebenaran, kini santri memegang smartphone di saku mereka ketika sedang liburan pessntren.

​Di lapangan, terjadi Dialektika Ideologis. Banyak santri yang secara lahiriah tampak patuh (ta'zim) di depan Kyai, namun di ruang digital mereka mengonsumsi ideologi dari ustadz-ustadz media sosial yang mungkin berseberangan dengan Kyai mereka. Ini menciptakan fenomena "Santri Dualis": mereka yang menjaga tradisi secara fisik di pesantren, namun berpikiran modern—bahkan liberal atau radikal—akibat pengaruh internet.

​Tantangan Otoritas dan Politisasi

​Realita yang tak bisa dipungkiri adalah tarikan ideologi Kyai ke ranah politik praktis. Saat musim pemilihan, pesantren sering kali menjadi magnet bagi para aktor politik. Di sini, ideologi Kyai diuji: apakah tetap konsisten pada jalur pendidikan moral (akhlaqul karimah) atau terjebak dalam pragmatisme.

​Banyak santri di lapangan mulai bersikap kritis. Mereka mulai membedakan mana dawuh Kyai yang bersifat agama (wajib diikuti) dan mana yang bersifat ijtihad politik pribadi (boleh berbeda). Ini adalah kemajuan sosiologis, namun di sisi lain sering dianggap sebagai pelunturan nilai ta'zim yang selama ini menjadi fondasi pesantren.

​Kesimpulan: Regenerasi Ideologi

​Pesantren tetap menjadi benteng terakhir karakter bangsa karena ideologi Kyainya yang menekankan moderasi (tawassuth). Namun, realitas lapangan menuntut Kyai untuk tidak hanya menjadi "penjaga museum" tradisi, tetapi juga menjadi navigator bagi santri di tengah badai informasi.

​Ideologi Kyai yang paling efektif di masa depan bukanlah yang memaksakan kepatuhan buta, melainkan yang mampu memberikan ruang diskusi bagi santri tanpa kehilangan ruh spiritualitasnya. Santri masa depan adalah mereka yang kakinya berpijak pada tradisi pesantren, namun kepalanya mampu menjangkau cakrawala global.

No comments: