oleh : Futihati Tadzkiran
Setiap manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan mulia, yakni menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk menjaga, memelihara, serta memanfaatkan segala potensi alam dengan sebaik-baiknya. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling utama dibandingkan ciptaan lainnya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
> “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”
(Q.S. At-Tin: 4-5)
Namun, kehormatan ini tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan ketaatan, ketakwaan, serta kesadaran untuk selalu berada dalam jalan yang diridai Allah. Luqman pernah menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, karena kesyirikan adalah sebuah kezhaliman yang besar. Dari nasihat ini kita belajar bahwa kemenangan seorang muslim dimulai dari tauhid yang lurus, takwa yang kuat, serta kesadaran akan amanah yang dipikulnya.
Salah satu jalan yang Allah berikan untuk meraih kemenangan adalah melalui bulan Ramadhan. Ramadhan bukan hanya bulan penuh ibadah, tetapi juga bulan pendidikan ruhani yang melatih kesabaran, ketulusan, dan pengendalian diri.
Seorang muslim yang berpuasa dengan ikhlas bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menjaga lisan, memperbaiki sikap, serta menahan diri dari segala hal yang dilarang Allah. Puasa mengajarkan kita untuk menghormati sesama, menolong yang membutuhkan, serta mendidik jiwa agar menjadi hamba yang lebih dekat kepada-Nya.
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
> “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Maka barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, hendaklah ia berpuasa.”
(Q.S. Al-Baqarah: 185)
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadhan bukan hanya sekadar ibadah tahunan, melainkan momentum untuk memperbaiki diri dan meraih kemenangan hakiki. Kemenangan itu bukan hanya berupa keberhasilan duniawi, tetapi juga kebahagiaan ukhrawi.
Kemenangan Sejati
Kemenangan umat Islam tidak diukur dari banyaknya harta atau tingginya jabatan, melainkan dari sejauh mana mereka mampu menegakkan tauhid, menjaga amanah sebagai khalifah, serta memanfaatkan momen Ramadhan untuk membersihkan jiwa.
Dengan bertakwa, berpuasa dengan penuh kesadaran, serta menghidupkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam akan mendapatkan kemenangan yang hakiki:
Kemenangan melawan hawa nafsu.
Kemenangan memperbaiki diri dan masyarakat.
Kemenangan menuju ridha Allah dan keselamatan akhirat.
Penutup
Kemenangan bukanlah hadiah instan, melainkan hasil dari perjuangan iman, kesabaran, dan pengendalian diri. Maka, mari kita jadikan Ramadhan sebagai momentum emas untuk memperkuat tauhid, menanamkan kebaikan, serta menapaki jalan menuju kemenangan sejati, yakni keberhasilan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
No comments:
Post a Comment