Bagaimana Umat Islam Meraih Kemenangan

oleh : Futihati Tadzkiran

Setiap manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan mulia, yakni menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk menjaga, memelihara, serta memanfaatkan segala potensi alam dengan sebaik-baiknya. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling utama dibandingkan ciptaan lainnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”

(Q.S. At-Tin: 4-5)

Namun, kehormatan ini tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan ketaatan, ketakwaan, serta kesadaran untuk selalu berada dalam jalan yang diridai Allah. Luqman pernah menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, karena kesyirikan adalah sebuah kezhaliman yang besar. Dari nasihat ini kita belajar bahwa kemenangan seorang muslim dimulai dari tauhid yang lurus, takwa yang kuat, serta kesadaran akan amanah yang dipikulnya.

Pandangan dan Sikap Muslim dalam Menyambut Tahun Baru 2026

Pergantian tahun 2026 merupakan momen yang tidak bisa dihindari dalam perjalanan waktu manusia. Bagi seorang Muslim, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka atau perayaan seremonial, melainkan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), memperbaiki niat, dan meneguhkan komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Islam memandang waktu sebagai amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini menegaskan bahwa berlalunya waktu, termasuk pergantian tahun, dapat menjadi sebab kerugian apabila tidak diisi dengan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memandang tahun baru sebagai pengingat bahwa umur semakin berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.

1. Muhasabah sebagai Sikap Utama