Satu Abad Nahdlatul Ulama: Istiqamah Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Mulia

Nahdlatul Ulama (NU) telah menapaki perjalanan panjang selama satu abad. Seratus tahun bukan sekadar hitungan usia, melainkan bukti istiqamah sebuah jam’iyah dalam menjaga agama, merawat tradisi, dan mengawal bangsa Indonesia menuju peradaban yang berakhlak dan bermartabat.

Sejak didirikan oleh para ulama dan kiai pada tahun 1926, NU hadir sebagai benteng Ahlussunnah wal Jama‘ah yang menanamkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Dakwah NU tumbuh dari pesantren, masjid, dan majelis ilmu, menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat. Di sanalah nilai-nilai keislaman ditanamkan dengan hikmah, kearifan, dan cinta tanah air.

Khutbah Jum'at Singkat : Bulan Sya’ban, Musibah dan Peringatan untuk Memperkuat Iman

  اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah ﷻ atas segala nikmat-Nya yang tiada terhitung. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.


Aku wasiatkan kepada diri khatib dan jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Karena hanya dengan takwa, seorang hamba akan selamat di dunia dan akhirat.

Khutbah Jum'at Singkat : Sya‘ban, Bulan yang Sering Dilupakan

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ، وَنَسْتَعِينُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَىٰ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.


Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah ﷻ dengan sebenar-benar takwa. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Saat ini kita berada di bulan Sya‘ban, sebuah bulan yang sering kali dilalaikan oleh banyak manusia, padahal bulan ini memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda:

ذَٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Itu adalah bulan yang banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan. Padahal bulan itu adalah bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam.”

(HR. an-Nasa’i)

Berbeda dalam Adab, Bersatu dalam Do'a : Hukum Mengusap Wajah Usai Doa dalam Perspektif Hadits dan Fiqih

Perbedaan pendapat dalam fiqih Islam merupakan konsekuensi logis dari perbedaan metodologi istinbāṭ dan cara memahami dalil-dalil syar‘i. Dalam wilayah ibadah amaliyah, sejumlah praktik keagamaan dipahami secara beragam oleh para ulama, tanpa menafikan kesepakatan mereka pada pokok-pokok ajaran Islam. Salah satu persoalan yang kerap muncul di tengah masyarakat adalah praktik mengusap wajah setelah doa, yang oleh sebagian ulama dibolehkan, sementara oleh sebagian yang lain tidak dianjurkan.

Kajian ini bertujuan untuk menelaah hukum mengusap wajah setelah doa melalui pendekatan hadits dan fiqih, dengan menyoroti dalil-dalil yang digunakan, pandangan ulama empat mazhab, serta sikap organisasi keagamaan di Indonesia. Pembahasan ini diharapkan dapat menempatkan persoalan tersebut dalam kerangka khilāfiyah furū‘iyyah secara proporsional dan akademik.

Hadits-Hadits Terkait Mengusap Wajah Setelah Doa

Di antara hadits yang sering dijadikan dasar kebolehan mengusap wajah setelah doa adalah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا مَدَّ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَرُدَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ

(HR. at-Tirmidzi)

Khutbah Jum'at Singkat : Meneladani Hikmah Isra' Mi'raj Nabi Muhammad

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 ​أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. 

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. ​

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah, 

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan di dunia dan sebagai penentu keselamatan di akhirat kelak.

Pada kesempatan khutbah Jum’at kali ini, khatib akan menyampaikan tentang peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, sebuah perjalanan luar biasa yang penuh dengan pelajaran iman, akidah, dan ibadah.


Pesantren dan Ideologi Kyai Terhadap Santri: Antara Sakralitas Tradisi dan Dialektika Zaman

 Telaah Judul: Mengapa "Ideologi Kyai"?

​Judul ini mengandung dua entitas sentral: Kyai sebagai subjek aktif (sang pemberi pengaruh) dan Santri sebagai subjek reseptif (penerima nilai). Kata "Ideologi" di sini tidak bermakna politis sempit, melainkan sebuah worldview atau cara pandang dunia yang mencakup aspek teologis, sosial, hingga perilaku keseharian. Membahas ideologi Kyai berarti membedah isi kepala dan hati seorang pemimpin spiritual yang kemudian diproyeksikan kepada ribuan muridnya melalui sistem asrama yang tertutup.

​Retorika dan Romantisme Pesantren

​Dalam narasi ideal, pesantren digambarkan sebagai "kerajaan kecil" yang mandiri. Kyai adalah sang raja bijak yang kata-katanya dianggap sebagai dawuh suci. Santri, dalam retorika klasik, diposisikan sebagai "tanah liat" yang siap dibentuk oleh tangan dingin Kyai.

Sikap Pesantren dalam Menyikapi Kontroversi Mens Rea: Antara Kebebasan Ekspresi dan Adab dalam Islam

 Beberapa waktu terakhir, ruang publik Indonesia diramaikan oleh polemik materi stand up comedy Mens Rea yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dan ditayangkan melalui platform digital. Konten tersebut menuai beragam reaksi: sebagian menilai sebagai kritik sosial yang sah, sementara sebagian lain menganggapnya telah melampaui batas kesantunan, bahkan menyinggung institusi keagamaan. Perdebatan ini memunculkan pertanyaan penting: bagaimana seharusnya pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam menyikapi fenomena semacam ini?

Pesantren dan Prinsip Keseimbangan

Tradisi pesantren sejak dahulu dikenal dengan sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), dan tasamuh (toleran). Dalam menyikapi persoalan sosial, pesantren tidak terburu-buru menghakimi, namun juga tidak abai terhadap nilai-nilai adab dan akhlak. Kritik sosial dalam Islam pada dasarnya diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama dilakukan dengan cara yang benar dan bertujuan untuk perbaikan, bukan penghinaan.

Allah SWT berfirman:.

Bagaimana Umat Islam Meraih Kemenangan

oleh : Futihati Tadzkiran

Setiap manusia pada hakikatnya diciptakan oleh Allah dengan tujuan mulia, yakni menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai khalifah, manusia diberi amanah untuk menjaga, memelihara, serta memanfaatkan segala potensi alam dengan sebaik-baiknya. Kedudukan ini menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang paling utama dibandingkan ciptaan lainnya.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

> “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya, kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka).”

(Q.S. At-Tin: 4-5)

Namun, kehormatan ini tidak datang begitu saja. Ia membutuhkan ketaatan, ketakwaan, serta kesadaran untuk selalu berada dalam jalan yang diridai Allah. Luqman pernah menasihati anaknya agar tidak menyekutukan Allah, karena kesyirikan adalah sebuah kezhaliman yang besar. Dari nasihat ini kita belajar bahwa kemenangan seorang muslim dimulai dari tauhid yang lurus, takwa yang kuat, serta kesadaran akan amanah yang dipikulnya.

Pandangan dan Sikap Muslim dalam Menyambut Tahun Baru 2026

Pergantian tahun 2026 merupakan momen yang tidak bisa dihindari dalam perjalanan waktu manusia. Bagi seorang Muslim, pergantian tahun bukan sekadar pergantian angka atau perayaan seremonial, melainkan saat yang tepat untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri), memperbaiki niat, dan meneguhkan komitmen ketaatan kepada Allah SWT. Islam memandang waktu sebagai amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan-Nya.

Allah SWT berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr: 1–3)

Ayat ini menegaskan bahwa berlalunya waktu, termasuk pergantian tahun, dapat menjadi sebab kerugian apabila tidak diisi dengan iman dan amal saleh. Oleh karena itu, seorang Muslim hendaknya memandang tahun baru sebagai pengingat bahwa umur semakin berkurang dan kesempatan beramal semakin terbatas.

1. Muhasabah sebagai Sikap Utama