Islam Kultural Kiai Ahmad Dahlan

oleh : Zaida

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia yang lahir dari gagasan besar Kiai Ahmad Dahlan. Sejak awal, gerakan ini dimaksudkan bukan hanya sebagai pembaharu dalam bidang agama, melainkan juga sebagai gerakan sosial, budaya, dan pendidikan. Kiai Ahmad Dahlan menghadirkan visi yang jauh ke depan, dengan kesadaran zamannya yang kuat, ia mampu melihat bahwa umat Islam membutuhkan perubahan mendasar agar mampu menghadapi tantangan modernitas.

Namun, perjalanan panjang Muhammadiyah setelah wafatnya sang pendiri menunjukkan dinamika yang tidak selalu sejalan dengan cita-cita awal. Dalam praktiknya, gerakan ini sering kali lebih menonjolkan sisi formalitas keagamaan (syariah) dan semakin berjarak dari persoalan sosial kemasyarakatan. Padahal, Kiai Ahmad Dahlan pada masanya justru menekankan pentingnya kesadaran sosial, budaya, dan kepedulian terhadap kaum kecil, seperti buruh, petani, serta masyarakat miskin.

Peran Besar Pendidikan Islam

KH. Hasyim Asy’ari: Ulama yang Menyulut Api Cinta Tanah Air

oleh : Tsalsa Ayu Rahmadhani

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama. Di antara nama besar itu, KH. Hasyim Asy’ari berdiri tegak sebagai sosok ulama karismatik, pendiri Nahdlatul Ulama, dan pejuang yang mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Lahir pada 10 April 1871 di Jombang, KH. Hasyim tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa hingga kemudian berangkat ke Makkah. Di tanah suci, beliau tidak hanya memperdalam kitab-kitab klasik, tetapi juga menyerap semangat perjuangan para ulama dunia Islam. Sekembalinya ke tanah air, KH. Hasyim bukan sekadar mengajar kitab, tetapi juga menyalakan api kesadaran umat untuk mencintai agama sekaligus membela bangsa.

Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Pada masa penjajahan, banyak yang menganggap agama dan politik sebagai dua jalan berbeda. Namun, KH. Hasyim Asy’ari hadir untuk menyatukannya. Beliau menegaskan bahwa menjaga agama tidak bisa dilepaskan dari menjaga tanah air. Dari situlah lahir gagasan besar bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).