KH. Hasyim Asy’ari: Ulama yang Menyulut Api Cinta Tanah Air

oleh : Tsalsa Ayu Rahmadhani

Sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran para ulama. Di antara nama besar itu, KH. Hasyim Asy’ari berdiri tegak sebagai sosok ulama karismatik, pendiri Nahdlatul Ulama, dan pejuang yang mengajarkan bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman.

Lahir pada 10 April 1871 di Jombang, KH. Hasyim tumbuh dalam keluarga pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren Jawa hingga kemudian berangkat ke Makkah. Di tanah suci, beliau tidak hanya memperdalam kitab-kitab klasik, tetapi juga menyerap semangat perjuangan para ulama dunia Islam. Sekembalinya ke tanah air, KH. Hasyim bukan sekadar mengajar kitab, tetapi juga menyalakan api kesadaran umat untuk mencintai agama sekaligus membela bangsa.

Ulama dan Pejuang Kemerdekaan

Pada masa penjajahan, banyak yang menganggap agama dan politik sebagai dua jalan berbeda. Namun, KH. Hasyim Asy’ari hadir untuk menyatukannya. Beliau menegaskan bahwa menjaga agama tidak bisa dilepaskan dari menjaga tanah air. Dari situlah lahir gagasan besar bahwa “hubbul wathan minal iman” (cinta tanah air adalah bagian dari iman).

Khutbah Jum'at singkat : Keadilan dalam Kebijakan Publik dan Amanah Kepemimpinan

Khutbah Pertama

الحمد لله

الحمد لله الذي أمر بالعدل والإحسان، ونهى عن الظلم والطغيان، وجعل العدل أساس الحكم، وأمرنا بحفظ الأمانة، وأداء الحقوق إلى أهلها.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، صلّى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليماً كثيراً.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Saya wasiatkan kepada diri saya sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ﷻ dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, karena ketakwaan adalah sumber kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,